Akhir-akhir ini lagi rame istilah “vibe coding” di media sosial, apalagi Threads (soalnya udah ga make Twitter, hehe). Walaupun sudah banyak disebutkan bahwa coding dengan pakai AI tidak semerta-merta disebut vibe coding, hal ini juga disebutkan oleh bang @ariya di Thread-nya dengan mengambil referensi dari Simon Willison: Not All AI-Assisted Programming is Vibe Coding.
Latar Belakang
Jadi aku mencoba membuat aplikasi keuangan yang kuberi nama Bukuin (bukuin.id). Awalnya tujuanku adalah untuk penggunaan pribadi agar mempermudah lacak pengeluaran/pendapatan—karena sebelumnya melakukan pencatatan di Obsidian.md dan masih belum membentuk kebiasaanku untuk mencatat.
Seperti yang dikatakan James Clear di buku Atomic Habits, ada poin menarik di “4 Laws of Behavior Change”, salah satunya adalah make it easy.
Tech Stack
Aplikasi ini dibangun menggunakan Flutter. Walaupun aku tidak terlalu pro dalam menggunakan Flutter, tapi aku memahami dasarnya, dan dengan bantuan AI, proses development jadi lebih accessible.
Fase Development
Kemudian masuk ke fase development:
Brainstorming dengan AI — Aku lebih sering pakai model Sonnet dari Anthropic. Mulai menyusun prompt yang tujuannya adalah membuat plan termasuk fitur MVP dari aplikasi ini.
Design — Masih brainstorming, tapi aku lanjut dengan prompt untuk design mulai dari color-schema, font, dan UI-nya. Dan seperti kebanyakan orang, awal-awal biasanya direkomendasikan warna ungu.

Eksekusi — Aku minta dia define color, design, dan screens.
Testing — Suruh nulis test untuk setiap function yang dia buat, terutama fitur-fitur utama.
Validasi — Validasi hasil dengan cara manual testing, lalu prompt, dan begitulah terus mengulang sampai hasilnya seperti saat ini. Jadi sepertinya Human-in-the-Loop relevan sampai di sini.
Durasi Development
Total waktu dari ide sampai rilis pertama: kurang lebih 3 bulan.
- 2 bulan untuk development
- 1 bulan untuk proses masuk ke Play Store—karena ada kebijakan wajib 14 hari testing, ditambah terjadi perubahan di fase testing
Perlu dicatat, ini dikerjakan di waktu kosong: Sabtu, Minggu, dan malam hari karena bekerja di siang hari.
Tantangan & Lessons Learned
Tantangan terbesar adalah aku bikin aplikasi ini sebelum Sonnet 3.6 rilis. Jadi aku gonta-ganti model mulai dari GPT-4, SWE dari Windsurf, Gemini 1.5, dan Sonnet 3.5.
Hasilnya? Masih banyak fitur yang menyebabkan bugs—makanya perlu di-test sebaik mungkin dan divalidasi manual. Bahkan di awal bikin, masih ada linter yang error dan inkonsistensi dari design/color schema.
Takeaway: Vibe coding bukan berarti full autopilot. Human validation tetap krusial, apalagi kalau berganti-ganti model AI yang punya “kepribadian” coding berbeda-beda.
Penutup
Jadi beginilah ceritanya dalam proses pembuatan aplikasi Bukuin ini dengan vibe coding.
Untuk aplikasinya kalian bisa download di Play Store dan webnya di bukuin.id. Jangan lupa di-rating ya!